EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Fermentasi Pakan Jadi Solusi Atasi Krisis Hijauan Ternak Saat Musim Kemarau

Selasa, 24 Februari 2026

657 x Dilihat

EM4 Indonesia

Peralihan musim hujan ke musim kemarau kerap menjadi tantangan serius bagi peternak di Indonesia. Salah satu kendala utama yang sering dihadapi adalah ketersediaan pakan ternak, khususnya pakan hijauan. Perubahan musim berdampak langsung pada kondisi lingkungan dan produksi komoditas pertanian, termasuk hijauan pakan ternak yang sangat bergantung pada curah hujan.

Pada musim hujan, hijauan pakan ternak tersedia melimpah dengan kualitas yang baik. Namun sebaliknya, saat musim kemarau tiba, ketersediaan hijauan menurun drastis, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sayangnya, hingga kini masih banyak petani dan peternak yang sangat bergantung pada hijauan segar sebagai sumber utama pakan ternak.

Padahal, terdapat berbagai metode alternatif yang dapat diterapkan untuk menggantikan pakan hijauan, terutama pada musim kemarau. Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah fermentasi pakan ternak. Metode ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pakan konvensional, di antaranya dapat disimpan dalam waktu lama, meningkatkan efisiensi pencernaan ternak, mempercepat pertambahan bobot badan, serta mengurangi bau tidak sedap pada kotoran ternak.

Fermentasi pakan merupakan proses pengawetan pakan secara alami dengan memanfaatkan mikroorganisme. Tujuannya agar pakan dapat disimpan dalam jangka waktu panjang tanpa mengurangi kandungan nutrisinya. Selain itu, fermentasi pakan juga bertujuan memanfaatkan limbah pertanian seperti pelepah pisang dan jerami, yang jumlahnya melimpah namun sering kali terbuang percuma.

Proses pembuatan pakan fermentasi relatif mudah. Limbah pertanian dicacah terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan tambahan seperti dedak, molase, dan larutan mikroorganisme. Campuran tersebut selanjutnya difermentasi dalam kondisi anaerob hingga siap digunakan sebagai pakan ternak.

Dalam penerapannya, pakan fermentasi sebaiknya diberikan secara bertahap agar ternak, khususnya domba, dapat beradaptasi. Sebelum diberikan, pakan juga dianjurkan untuk diangin-anginkan selama kurang lebih 15 menit guna mengurangi kelembapan. Pakan yang terlalu lembap dapat menurunkan selera makan ternak.

Perbedaan jenis pakan turut memengaruhi tingkat palatabilitas ternak. Jika ternak belum terbiasa dengan pakan fermentasi, kemungkinan terjadi penolakan pakan yang dapat berdampak pada produktivitas. Oleh karena itu, proses adaptasi menjadi kunci keberhasilan penggunaan pakan fermentasi.

Fermentasi pakan diharapkan dapat diaplikasikan secara luas oleh seluruh peternak, tidak hanya peternak domba, tetapi juga peternak ruminansia lainnya. Dengan demikian, kebutuhan pakan ternak tetap dapat terpenuhi secara optimal selama musim kemarau meskipun tanpa mengandalkan hijauan segar, sebagaimana diulas oleh Kampusternak.com.

 


Berita Terkini