EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Dr Wididana Ungkap Perjalanan Panjang Mengembangkan Teknologi EM4 di Indonesia demi Pertanian Organik Berkelanjutan

Senin, 29 Juni 2026

303 x Dilihat

EM4 Indonesia

Direktur Utama PT Songgolangit Persada (SLP), Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr.

Direktur Utama PT Songgolangit Persada (SLP), Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., menegaskan bahwa pengembangan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4) di Indonesia dilakukan dengan ketulusan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pertanian organik, kesehatan lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup.

Wididana yang akrab disapa Pak Oles mengatakan, selama puluhan tahun pihaknya terus melakukan edukasi, penelitian, dan inovasi produk agar teknologi EM4 tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

“Dengan produk organik, masyarakat bisa menjadi sehat. Saat ini kebutuhan masyarakat bukan hanya perut yang kenyang, tetapi juga kesehatan, kebugaran, dan kecantikan,” ujar Pak Oles di Denpasar.

Pak Oles mengungkapkan bahwa dirinya mendapat kepercayaan sebagai satu-satunya pemegang lisensi untuk melanjutkan pengembangan teknologi Effective Microorganisms (EM) di Indonesia dari penemunya, Prof. Dr. Teruo Higa, Guru Besar Bidang Hortikultura University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang.

Perjalanan pengembangan EM4 di Indonesia dimulai sejak era 1990-an. Saat itu, konsep pertanian organik masih belum banyak diterima dan bahkan sering mendapat penolakan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Pak Oles untuk terus memperkenalkan teknologi berbasis mikroorganisme menguntungkan tersebut.

“Saya fokus mengembangkan EM4 secara pelan-pelan sampai menemukan bentuk yang tepat, tetap berbasis teknologi EM yang ditemukan Prof. Teruo Higa, kemudian dikembangkan untuk pertanian, peternakan, pengolahan limbah, hingga pembuatan pupuk Bokashi,” tuturnya.

Alumnus Program Pascasarjana Fakultas Pertanian University of The Ryukyus Okinawa, Jepang, periode 1987–1990 itu juga aktif membagikan pengetahuan kepada para petani di berbagai daerah di Indonesia. Melalui Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) yang didirikannya di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, ribuan petani, siswa, mahasiswa, dan pemerhati pertanian telah mendapatkan pelatihan mengenai pertanian organik dan teknologi EM.

“Saya tulus mengembangkan teknologi EM ini bukan untuk bisnis semata, tetapi untuk masyarakat Indonesia yang pada saat itu sangat bergantung pada produk-produk kimia,” katanya.

Dalam proses pengembangannya, Pak Oles juga menggandeng berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk mengkaji manfaat EM4 terhadap kesuburan tanah, kesehatan lingkungan, serta produktivitas pertanian. Berbagai seminar dan kegiatan ilmiah turut dilakukan guna memperkuat dasar ilmiah penggunaan teknologi tersebut.

“Memang prosesnya panjang dan sering dianggap melawan arus. Namun, kami membuktikannya melalui data, penelitian, dan hasil nyata di lapangan,” ujarnya.

Menurut Pak Oles, mengembangkan EM4 memberikan kepuasan tersendiri karena prosesnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis. Ia mengibaratkan perjalanan tersebut seperti merawat seorang anak sejak lahir hingga tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bermanfaat.

“Melihat perkembangan EM4 seperti merawat anak sendiri, mulai dari bayi, disusui, diberi makan, dididik, hingga akhirnya tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang,” ungkapnya.

Perjuangan panjang tersebut kini membuahkan hasil. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian organik terus meningkat, seiring dengan tren global yang semakin mengutamakan produk pangan sehat dan ramah lingkungan.

Pak Oles menilai pertanian organik tidak hanya menghasilkan makanan yang lebih sehat, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan serta berpotensi menekan biaya kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

“Produk pertanian organik dan lingkungan yang sehat tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat membantu mengurangi beban biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat maupun pemerintah,” katanya.

Lebih lanjut, penggunaan EM4 pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sehingga membantu petani memperoleh biaya usaha yang lebih terkendali. Teknologi EM juga berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah secara alami, menekan perkembangan hama dan penyakit, serta menjaga kebersihan lingkungan pertanian.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan produk pangan sehat dan berkelanjutan, Pak Oles optimistis teknologi EM4 akan terus berkontribusi dalam mendukung perkembangan pertanian organik Indonesia menuju masa depan yang lebih sehat, produktif, dan ramah lingkungan.


Berita Terkini