EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Petani Klaten Sukses Tingkatkan Hasil Panen Padi dengan Teknologi EM4

Rabu, 29 April 2026

161 x Dilihat

EM4 Indonesia

Seorang petani padi asal Kecamatan Karang Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Alek Suprianto, berhasil mengembangkan budidaya padi dengan memanfaatkan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4) di lahan seluas dua hektar. Hasilnya, tanaman padi jenis gendit yang ia tanam tampak menguning sempurna dengan bulir padi yang besar dan merunduk, menandakan kesiapan panen yang optimal.

Suprianto, yang merupakan suami dari Maika Dewi, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2020 ia rutin menggunakan EM4 sebagai bagian dari sistem pemupukan untuk meningkatkan hasil panen. “Dengan menggunakan EM4, hasil panen cukup baik,” ujarnya saat ditemui tim YouTube EM INDONESIA OFFICIAL.

Ayah dua anak ini menjelaskan bahwa penggunaan EM4 dilakukan secara bertahap sejak awal pengolahan lahan. Setelah musim panen selesai, ia langsung menyemprotkan EM4 ke tanah. Proses ini dilanjutkan saat pembajakan dan kembali dilakukan penyemprotan ketika tanaman padi berusia empat hari setelah tanam.

Sebelum mengenal EM4, Suprianto mengandalkan pupuk dari urin kelinci yang dicampur dengan molase (tetes tebu). Kini, ia mengombinasikan bahan tersebut dengan EM4 melalui proses fermentasi, yang terbukti memberikan hasil lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.

Ia memaparkan, proses fermentasi dilakukan selama dua minggu dengan komposisi 1 liter urin kelinci, 1 liter EM4 pertanian, 1 liter molase, serta 16 liter air sumur atau sungai. Hasilnya berupa pupuk organik cair (POC) yang kemudian diaplikasikan ke lahan dengan perbandingan 1 liter POC dicampur 10 liter air.

“Setelah pakai EM4, tanah jadi lebih subur dan gembur. Tanaman padi tumbuh lebih baik, jumlah anakan banyak, dan malai lebih panjang,” jelasnya sambil meninjau sawahnya yang siap panen.

Ia juga menambahkan bahwa batang padi menjadi lebih kuat dan tidak mudah rusak berkat pemakaian EM4 secara rutin. “Selain mempermudah pengolahan tanah, tanaman jadi lebih sehat dan hasil panennya meningkat,” katanya.

Dari segi kualitas, Suprianto menilai beras yang dihasilkan memiliki rasa yang lebih pulen, enak, dan empuk. Hal ini juga berdampak pada nilai jual, di mana para pengepul selalu siap membeli hasil panennya dengan harga yang sesuai harapan petani.

Keberhasilan Suprianto ini menjadi contoh bahwa inovasi sederhana berbasis mikroorganisme dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan, sekaligus menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.


Berita Terkini