Kembalikan Kesuburan Tanah dengan Pupuk Organik Bokashi
Kamis, 11 Juni 2026
230 x Dilihat
Bokashi merupakan pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan penambahan bakteri dari EM4 (Effective Microorganism 4). Kelebihan penambahan EM4 pada proses
pengomposan bahan organik adalah waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional (alami). Didalam EM4 mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp, ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.
Tanaman Indigofera sp pada umumnya dimanfaatkan oleh petani sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium dan jenisnya sekitar 700 jenis (Anggraeny S, 2020).
Instalasi komposting SMKPP Negeri Sembawa mencoba menggunakan Indigofera sp sebagai campuran dalam pembuatan pupuk kompos bokashi. Untuk mendukung dan mensosialisasikan kerja pemerintah dalam penggunaan pupuk organik kompos bokashi, SMK PPN Sembawa membuat pupuk kompos bokashi berbahan dasar limbah feses ternak sapi dan daun Indigofera sp.
Sebelumnya telah membuat pupuk organik bokashi berbahan feses sapi, feses puyuh dan daun Gamal (Giricidia sepium). Proses fermentasi pupuk bokashi memerlukan waktu 10-15 hari dengan teknologi EM4 dan ditambahkan Molases.
Manfaat pupuk organik bokashi adalah: a) memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah; b) meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian; c) meningkatkan kandungan material organik tanah sehingga mengurangi kepadatan tanah dan dapat mempermudah masuknya air ke dalam tanah; d) mengurangi kelengketan tanah sehingga meningkatkan performa alat mesin pertanian (Cybex.pertanian, 2019).
Ujang Muhammad, S.ST petugas instalasi komposting yang dijumpai di lokasi praktik SMK PP N Sembawa menjelaskan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik bokashi Indigofera sp sebanyak 200 kg berupa feses sapi 190 kg, daun Indigofera sp 10 kg, dedak 1 kg, EM4 40 ml, Molases 40 ml dan air 30-40 liter (tergantung kondisi feses sapi).
Peralatan yang dibutuhkan berupa sekop/cangkul ember, gayung, gelas ukur, dan gembor untuk menyiram. Lebih lanjut Ujang Muhammad, S.ST menyebutkan langkah-langkah pembuatan pupuk organik bokashi buat larutan dari air, EM4 dan molases pada ember/bak plastik, kemudian aduk sampai larut
semua bahan kemudian diamkan, siapkan feses sapi dan daun indigofera kemudian diaduk sampai tercampur rata, taburkan dedak diatas campuran feses sapi dan indigofera kemudian aduk kembali, Siramkan larutan tadi menggunakan gembor pada tumpukan feses dan daun indigofera sampai cukup basah kemudian aduk kembali sampai merata,
Untuk mengetahui basah tidaknya bahan yang sudah disiram, ambil dan kepalkan campuran feses tadi. Jika dikepalan keluar air, maka bahan yang disiram larutan terlalu basah (kurang baik). Jika setelah dikepal tidak keluar air dan saat dibuka kepalan campuran fesesnya dalam keadaan menggumpal tidak langsung merekah, maka campuran tersebut cukup, Buat tumpukan feses dengan ketinggian sekitar 20 cm lalu tutup dengan karung goni/terpal dan diamkan selama 2 jam. Dua jam kemudian periksa kembali suhu tumpukan pupuk, suhu yang baik berkisar antara 40-45 0 C (hangat kuku). Jika melebihi suhu tersebut, tumpukan ditipiskan, jika
suhu dibawah 40 0 C, maka tumpukan pupuk ditebalkan kemudian tutup kembali.
Lebih lanjut Ujang Muhammad menjelaskan langkah selanjutnya dalam
pembuatan bokashi antara lain proses fermentasi memerlukan waktu 10-15 hari.
Pembalikan pupuk dapat dilakukan tiga hari sekali, agar uap panas didalam pupuk dapat keluar, dengan ciri-ciri pupuk bokashi yang telah “jadi” adalah warnanya kecoklatan tidak hitam (tergantung bahan baku yang digunakan), tidak berjamur, aromanya “khas”, jika dipegang tidak panas atau hangat (sudah dingin=normal)
Untuk pengaplikasian pupuk bokashi 1 kg/m 2 lahan, lihat kondisi tanah yang akan diaplikasikan. Jika tanah tersebut kritis, maka penggunaan pupuk bokashi dapat diperbanyak.
link:
Berita Terkini
Terpopuler
Berita Terkait