EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Petani Banyumas Sukses Tanam Pepaya di Tanah Gersang Berkat EM4 dan Pupuk Organik Fermentasi

Senin, 22 Juni 2026

246 x Dilihat

EM4 Indonesia

Muhammad Budi Santoso menunjukkan produk EM4 Pertanian yang digunakan dalam bududaya pepaya di kawasan Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kondisi lahan yang gersang, keras, dan berbatu atau dikenal sebagai tanah wadas tidak menjadi penghalang bagi Muhammad Budi Santoso untuk mengembangkan pertanian organik. Berbekal teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4), petani asal Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini berhasil menumbuhkan tanaman pepaya di lahan yang sebelumnya dianggap sulit untuk ditanami.

Muhammad Budi Santoso (56), yang selama delapan tahun terakhir menekuni usaha peternakan ayam pejantan, mulai merambah sektor budidaya pepaya sekitar tiga hingga empat bulan lalu. Lahan yang digunakan sebelumnya hanya ditumbuhi alang-alang dan semak berduri.

“Saya menanam pepaya mulai 3-4 bulan ini. Tanah di sini sebelumnya ditumbuhi alang-alang dan pohon duri yang tinggi-tinggi,” ujar Budi saat ditemui tim YouTube EM Indonesia Official di Jawa Tengah.

Menurut Budi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kondisi tanah yang sangat gersang dan berbatu. Bahkan, upaya penanaman singkong sebelumnya tidak memberikan hasil yang memuaskan karena tanaman sulit tumbuh.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia memanfaatkan kotoran ayam (kohe) yang difermentasi menggunakan EM4 sebagai pupuk organik. Hasilnya, tanaman pepaya menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik.

“Saya mulai memupuk dengan kohe ayam yang difermentasikan dengan EM4. Syukurlah sudah mulai tumbuh bagus. Dalam waktu 2,5 bulan sudah mulai berbunga dan harapannya hasil panen juga bagus,” katanya.

Selain pupuk fermentasi, Budi juga menambahkan arang ke dalam tanah untuk membantu menjaga keseimbangan pH. Ia mengaku tidak menggunakan pupuk kimia, selain karena faktor biaya, juga karena ingin memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Saya tidak menggunakan pupuk kimia karena tidak punya uang untuk membeli. Di sini banyak limbah ayam dan kambing, jadi saya manfaatkan karena mudah didapat dan biayanya murah,” ungkapnya.

Pemilihan tanaman pepaya juga bukan tanpa alasan. Menurut Budi, pepaya memiliki peluang pasar yang cukup baik dan relatif mudah dibudidayakan. Sebagai peternak ayam, ia juga memiliki akses mudah terhadap bahan baku pupuk organik yang dibutuhkan.

Meski sempat mendapat keraguan dari sebagian masyarakat karena kondisi lahannya yang sulit ditanami, Budi tetap optimistis. Ia menjadikan keberhasilan tanaman pepaya tumbuh di lahan gersang sebagai motivasi untuk terus mengembangkan pertanian organik.

“Awalnya sempat diledekin karena banyak yang menanam di lahan seperti ini tidak berhasil. Tetapi dengan kemauan dan semangat, saya terus mencoba. Saya bangga karena tanaman pepaya bisa tumbuh di tanah yang gersang ini,” ujarnya.

Budi mengungkapkan bahwa sebelumnya ia juga mendapat rekomendasi dari petugas Dinas Pertanian setempat untuk menggunakan EM4. Pengalaman positif menggunakan EM4 pada usaha peternakan ayam pejantan membuatnya semakin yakin menerapkan teknologi tersebut pada sektor pertanian.

Selain membantu menekan biaya pakan, penggunaan EM4 di kandang ayam juga dinilai mampu mengurangi bau tidak sedap sehingga mendukung sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan.

“Terima kasih produk EM4 yang sudah membantu kami untuk bertani. Kami jadi lebih semangat bertani. Kalau bisa, kita menghindari penggunaan pupuk kimia demi anak cucu kita. Kita harus berusaha mengonsumsi makanan yang sehat dan tidak terkontaminasi pupuk kimia,” tutup Budi.

Keberhasilan Muhammad Budi Santoso menjadi bukti bahwa pemanfaatan pupuk organik fermentasi berbasis EM4 dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan marginal sekaligus mendukung pengembangan pertanian organik yang berkelanjutan di Indonesia.


Berita Terkini