EM4 Indonesia

Denpasar, Bali, Indonesia

Call: 0816574045

info@em4indonesia.com

Pupuk Organik Aplikasi EM4 Dorong Kesuburan Buah Naga

Jumat, 14 Agustus 2026

257 x Dilihat

EM4 Indonesia

Kebun buah naga milik Sujarwo, warga Dusun Kaliwungu, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tumbuh subur dengan memanfaatkan pupuk organik berbahan kotoran ternak yang difermentasi menggunakan Effective Microorganisms 4 (EM4).

Pria yang akrab disapa Mr. Wo tersebut mengatakan, pupuk organik yang digunakan di kebunnya berasal dari kotoran sapi yang dipeliharanya. Kotoran ternak tersebut dicampur dengan berbagai bahan organik lainnya, termasuk sisa pakan berupa beragam jenis hijauan.

Menurutnya, bahan-bahan tersebut sangat potensial diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Sujarwo yang merupakan owner PT Tunas Abadi Indoagro Banyuwangi memang memiliki hobi bertani. Ia mengelola lahan pertanian dengan luas sekitar 15 hektare yang tersebar di sekitar 20 lokasi di kawasan Tegaldlimo, Banyuwangi.

“Belasan ekor sapi pedaging yang saya pelihara setiap hari menghasilkan kotoran dan urine cukup banyak. Semua itu kami manfaatkan untuk dibuat menjadi pupuk organik padat maupun pupuk organik cair,” ujar Mr. Wo.

Pupuk organik tersebut kemudian difermentasi menggunakan EM4 produksi PT Songgolangit Persada. Pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk organik ini sekaligus menjadi upaya mengintegrasikan usaha peternakan dengan pertanian.

Buah Naga Tumbuh Subur

Mr. Wo mengaku penggunaan pupuk organik hasil fermentasi EM4 memberikan manfaat terhadap pertumbuhan tanaman buah naga yang dibudidayakannya.

“Bisa dilihat, tanaman buah naga di sini sangat subur. Ini karena secara rutin saya pupuk menggunakan pupuk organik yang difermentasi dengan EM4,” katanya saat ditemui tim YouTube EM di kebunnya.

Selain mengandalkan pemupukan organik, Mr. Wo juga menerapkan teknologi penyinaran menggunakan lampu listrik untuk merangsang pembungaan tanaman buah naga.

Teknik tersebut dilakukan untuk membantu tanaman mendapatkan tambahan penyinaran sehingga produksi bunga dan buah dapat dipacu di luar kondisi musim normal.

Menurut Mr. Wo, tanaman buah naga membutuhkan durasi penyinaran yang cukup panjang setiap harinya. Sementara itu, lama penyinaran alami matahari tidak selalu mencukupi kebutuhan tersebut.

“Dengan bantuan penyinaran lampu listrik di sekitar tanaman buah naga, akan merangsang tanaman mengeluarkan bunga lebih banyak. Selain itu, buah naga bisa berbunga tidak mengenal musim,” jelasnya.

Penggunaan lampu untuk merangsang pembungaan buah naga, lanjutnya, kini telah banyak diterapkan oleh petani buah naga di Banyuwangi sebagai salah satu upaya meningkatkan produksi.

Buah Besar dan Manis

Dengan menerapkan budidaya yang mengutamakan penggunaan pupuk organik, tanaman buah naga di kebun Mr. Wo menghasilkan buah dengan ukuran cukup besar, warna cerah, dan rasa manis.

Ia berharap pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan baku pupuk organik dapat terus dikembangkan sehingga limbah peternakan memiliki nilai tambah sekaligus mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Mr. Wo, keberadaan peternakan dan pertanian dapat saling mendukung. Kotoran ternak tidak lagi sekadar menjadi limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman melalui proses fermentasi.

“Peternakan menghasilkan bahan untuk pupuk, kemudian pupuk tersebut kami kembalikan ke lahan pertanian. Jadi semuanya bisa saling mendukung,” pungkasnya.


Berita Terkini